Cinta, Cerita, dan Rupa

sekaranglah saatnya, karena kemarin bukan lagi milik kita dan esok belum tentu kita temui

Yuk, acak-acak!

Posted by rere pada 14 Januari 2012

Memang sudah fitrahnya anak-anak, untuk acak-acak. Bermain sendiri, atau bersama teman, kekacauan yang ditimbulkan kurang lebih sama saja. :p

Sebagai mamahmuda (mahmud-demikian teman saya menjuluki), saya membaca banyak hal. diantara banyak hal tersebut, terselip satu kalimat, “jangan halangi anak anda bereksplorasi, bergerak akan mengembangkan kemampuan motoriknya”. Jadi, karena demikianlah saya memasrahkan diri membereskan segala yang telah “dihancurkan” si bayi.

Sebisa mungkin saya membiarkan si bayi acak-acak. Terkadang kegiatan acak-acak ini bisa berlangsung sangaaatt lama, pada waktu lain, tak sampai semenit, dia sudah bosan. :p

Menyenangkan adalah, melihat mimik si bayi saat mengacak-acak. Dia sungguh bahagia. :D

acak sendiri

acak rame-rame

/salam sayang

Ditulis dalam Opet | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tentang Foto Anak, disini dan disana

Posted by rere pada 29 Desember 2011

foto super gak penting, tapi tetap saja saya aplod!

bahkan, teman yang paling garangpun, memasang foto anaknya pada profile picture!

Apa sih yang sebenarnya terjadi pada saya dan (beberapa) teman-teman saya yang beranak (istrinya beranak)? Kok ya, jadi mellow-mellow njiji-i gitu? Pasang foto anak di satu/beberapa/setiap akun sosial, update/unggah terbaru perkembangan anak, tengkurap, telentang, baju baru, tidur, ngences, merangkak, belajar jalan, nangis, dan yang paling sering, foto anak tertawa.

Siapa memangnya yang perlu tahu? Siapa pula yang ingin tahu?

Memasang foto anak, ibarat candu. Tak cukup sekali, setelah ini, lalu itu, setelah itu, lalu yang lain lagi, adaaa saja yang perlu dikabarkan kepada oranglain. Berkabarnya tak langsung memang, tapi ya intinya sama.

Seorang teman yang belum beranak bertanya kepada saya, apa yang melandasi perbuatan itu? “kamu salah satu tersangkanya,” demikian ia berujar. dan saya harus menjawab sejujur mungkin, karena memang teman saya ini sama sekali tidak bisa dibohongi, radarnya kuat.

Saya tidak punya jawabannya, saya tidak tahu apa yang saya pikirkan saat foto-foto itu terunggah dengan sombongnya di akun saya.

Lalu, saya jawab, “saya senang, dan saya pikir orang juga akan senang saat melihatnya.” Masalahnya, saya tahu persis saya tidak berpikir demikian. Melihat anak orang lain, itu senang awal-awalnya saja, saat baru lahir, misalnya. Setelah itu, foto si anak ngences atau nyengir lebar, tak lagi membuat senang, apalagi itu foto teman yang tidak “begitu” dekat. Cukup tahu saja, “ooo, sudah melahirkan/oooo, sudah punya anak.” Selesai.

Apa alasannya untuk “nyombong”? Memangnya anak bisa jadi bahan sombong ya? Lah, masi pipis dan beol sembarangan gitu kok disombongin. Macam tidak punya prestasi lainnya dalam hidup, selain bikin anak (memang iya sih).

Ada lagi seorang teman yang bilang begini “eh, anakku ada di majalah ini, halaman segini loh.” Lah, terus maksudnya apa? Suruh beli majalahnya, terus kasi komentar “ehh, anakmu cakep yaa, dikasi makan apa?” gitu? Kalau kasus seperti dia ini, apa ya maksudnya? Ada lagi, yang rajin bikin blogpost tiap si anak “pinter” sedikit (iya itu saya :p ).

Oh iya, teman yang itu (iya, dia masih orang yang sama), juga bilang jangan menamakan album foto anak dengan judul semacam “my angel”, “hidupku”, “pahlawanku”. Saya sih mengerti ya, gimana bisa anak yang nangis sembarangan, lempar-lempar barang, dipanggil malaikat/pahlawan. Terlalu mimpi.

Jadi, masih belum tertebak juga alasannya ya? Sepertinya saya butuh bantuan teman-teman lainnya untuk menjawab.
Kemarin, saya bilang begini pada dia, “nanti kalau kamu sudah melahirkan, dan (kalau) melakukan hal yang sama, tolong beritahu saya alasannya ya,

karena saya sungguh mati penasaran!

/salam emak-emak

Ditulis dalam Opet, Saya Berpendapat | Bertanda: | 4 Komentar »

Happy Anniversary, dear suamiistri…

Posted by rere pada 23 Desember 2011

Horeeeee, saya jadiaannn, itu tuh kejadian delapan tahun lalu. :D
Setelah 21 tahun menjomblo, akhirnya ada juga laki=laki yang mau sama saya. Horeeee…

Tepat empat tahun pacaran, kami menikah. :D

dear Abang, saya tahu, saya ini istri yang banyak mengeluh, sering marah, banyak cemberut, menyebalkan.
Toh Abang tetap bertahan, tidak balik kanan, kabur ke kampung halaman.
Abang masih disini, di samping saya, sambil menahan marah kalau saya bikin jengah.

Saya ingat, dulu saya pernah bilang, saya tidak bisa menerima kekerasan, dan tidak akan berpikir dua kali untuk berpisah kalau hal itu terjadi,
dan abang berjanji tidak melakukannya, semoga hal begitu tidak ada di keluarga kita ya Bang.

Saya ini sayang Abang, sungguh.
Semoga Abang juga begitu.

Selamat delapan tahun, suamiku.

Tepat setahun sama kamu, berdua di kontrakan, makan kue sampe kenyang. :)

sudah dua tahun, hampir tidak ada yang berubah, masih sama semuanya, kecuali badan saya-yang makin lebar. :D

Tahun ketiga, kami mengundang kawan datang ke rumah, waktu itu saya sudah hamil besar sekali, niatnya sih sekalian makan-makan menyambut kelahiran. Eh, saya masak sendiri loh.. :D

empat tahun sama kamu,

sekarang, sudah ada Embun diantara kita. :D

/salam sayang.

Ditulis dalam Tentang Saya, dan Dia | Bertanda: | 5 Komentar »

Kamis, dan cairan tubuhmu, Manis

Posted by rere pada 8 Desember 2011

Teguk sepuasnya, ini kamis!
Kata mereka menjerit, Lepaskan!

Bunuh orang kafir!
Katamu sembari menguarkan jerit dan peluh nikmat!
Bunuh! Lalu kau terkapar kelelahan.

Ini kamis, manis.
Maka siapkan tubuhmu, kita akan berbuat sekotor mungkin,
besok hari bersih-bersih, bukan?

Nabimu bilang hari ini hari baik, maka surga mendekatimu.
Cairan tubuh bersatu, senyum lebar, lutut terasa hilang, ingatlah, surgamu mendekatimu.

Ini Kamis. Begitu bukan?

Aku?
Maaf tak ikut bersuka, hanya saja kurang begitu percaya.
Rasulku, bukan pengangguran-yang punya begitu banyak waktu,
sampai-sampai mengabarkan padaku,
kapan hari baik untukku,
mengobral mani.

/salam

Ditulis dalam Saya Berpendapat | 2 Komentar »

Apa yang menyenangkan tentang punya anak

Posted by rere pada 5 Desember 2011

Sesuai judulnya, saya ingin bercerita tentang apa yang menyenangkan tentang punya anak. Ini bukan tentang tingkah si anak begini, atau si anak begitu, tapi tentang tingkah orang-orang di sekelilingnya.  Mereka-sungguh-baik-hati.

Punya anak, itu artinya, hidup tidak lagi seputar kamu. Ketika bertemu kawan atau keluarga, orang pertama yang akan ditanya adalah, anakmu! “Apa kabar, si X?” ; “Udah bisa apa, si X?” , ya begitu-begitulah.

Jadi, karena mereka menyayangi (atau entah apalah namanya, saya juga kurang paham perasaan mereka) anakmu, mereka tidak keberatan mengeluarkan dana ekstra untuk menyenangkan si bayi (yang bahkan belum paham apa-apa). haha..

Sejatinya, mereka semua membuat saya bahagia, super bahagia. :D
Biar saya katakan sekali lagi, apapun niat dibalik tindakan kalian semua, i do happy… :D

Ini tentang teman-teman di sekitar, yang terus saja memberikan hadiah untuk si bayi, bahkan saat tidak ada perayaan apa-apa. Kelahirannya sudah berbulan lewat, dan ulang tahunnya juga masih jauh.. hahha..

Dear tante-tante yang baik dan cantik, kami berterimakasih, sangat.

Piyama ini kadonya @venniem, bergambar puluhan ballerina kecil, ada tulisannya "low fire danger", merknya Dymples. Ada tulisan "2", entah artinya untuk anak umur dua tahun atau apa, kurang jelas juga. :D

kado dari Tante Nofi Miranda. :D . Tujuh buku dongeng "tujuh menit" karangan Clara Ng. Bugi hiu suka senyum; wayang sebelum tidur; upik bermain bola; kancil yang baik; padi merah jambu; air mata buaya; dan, ketahuan!. Tante Nofi ini bener-bener ngasi pe-er buat emaknya Embun. :p

kado dari tante Riri Novita Sari. Boneka lebah, dengan dua sungut dan hidung bulat yang unyu sekali.. :D *padahal ke tokonya bareng loh, tapi gak "ngeh" itu dibeli buat Embun.

kado dari tante Desy Pakpahan. kemarin malem ketemuan di BintaroPlasa, si Tante bawa embun jalan-jalan ke toko, emaknya liat headband keren-keren, mulai pilih-pilih, gelap mata, eh pas di kasir malah dibayarin. :D

Sekian dan terimakasih, tidak menolak kalo dikasi kado lagi, *dilempar panci. :p

Embun nampang pake headband biru-dapet dikasi Tante Dede Tuhana, tetangga depan rumah. :D

/salam kado

 

Ditulis dalam Opet | Bertanda: | 4 Komentar »

Beberapa Hal yang Mereka Bisa, dan Saya Tidak Bisa

Posted by rere pada 16 November 2011

Bergaul dengan ibu-ibu sekompleks adalah pengalaman baru buat saya. Ibu-ibu di kompleks saya, adalah ibu rumah tangga yang super rajin (ini kesimpulan saya), kebanyakan dari mereka mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, tanpa ART.

Bangun tidur, hingga tidur lagi, diseling pekerjaan yang tak habis-habis. Mencuci, menyeterika, masak, beberes rumah, urus anak, urus suami, huihh.. dan jangan lupa, mereka masih punya waktu untuk ngerumpi dong ahh.. Hebat kan?

Mereka bisa, dan saya tidak bisa. Saya tidak mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendirian, sambil urus anak. Saya tidak tenang meninggalkan bayi tidur sendirian di kamar, meski sudah dihalang lima belas bantal. Saya tidak bisa. Saya ketakutan. Saya kuatir si bayi jatuh dari tempat tidur kalau saya tinggal saya juga kuatir kepala si bayi terantuk kalau bermain tanpa pengawasan. Intinya adalah, saya tidak bisa meninggalkan bayi saya sendirian. Bukan cuma untuk kepentingan si bayi, tapi juga untuk kepentingan saya, untuk kenyamanan otak saya.

“Biarin aja main sendirian, Mbak. Kan bisa nyambi masak/nyuci,”. Gimana ya cara saya menjelaskannya, SAYA HANYA TIDAK BISA. Tidak bisa dalam arti sebenarnya. Menurut saya, besar kemungkinan kecelakaan terjadi kalau saya nyambi. Dan iya, saya tak tenang, sungguh.

Pada satu waktu, saya kadang merasa dihakimi. Seharusnya kan kamu bisa begini, seharusnya kan kamu bisa begitu. Lalu biasanya saya kembali berpikir, kenapa saya harus menggunakan ukuran orang lain, kemampuan saya saat ini tidak memungkinan saya untuk melakukan semua aktivitas yang mereka lakukan.

Saya hanya tidak bisa.

 

Ditulis dalam Saya, Begini Begitu | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

sembilan bulan

Posted by rere pada 3 November 2011

Terimakasih untuk berkat yang tak putus-putus, berkat sehat, berkat umur. Sudah sembilan bulan sejak saya melahirkan, dan iya, sudah sembilan pula umur si bayi.

Si bayi sedang belajar jalan sendiri, tah tih dua tangan, tah tih satu tangan, lalu lepas kedua tangan, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lalu jatuh. Begitu berulang, terus. Harapan saya kepadanya hanya, “janganlah menyerah sayang, teruslah berusaha, kamu pasti bisa”.

Hari ini dia agak demam, kata tante dokternya itu KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) campak. Semoga demamnya tak lama, amin.

Ada beberapa perubahan yang saya lakukan di rumah, salah satunya adalah menyediakan ruang bermain yang cukup luas di kamar. Barang-barang yang sebelumnya berserak di lantai sudah saya pindahkan ke tempat yang lebih aman, agar tidak mudah terjangkau si bayi.

Si bayi sekarang punya rutinitas pagi, jalan-jalan keliling komplek, satu putaran, dengan ayahnya. Raut senang begitu terlihat, dan ia enggan turun pastinya. Si bayi tau persis bagaimana cara membuat hati ayahnya meleleh, ya. :D

makan sendiri

main sama appa

/salam emak-emak

Ditulis dalam Opet | Tinggalkan sebuah Komentar »

Galau Emak Baru

Posted by rere pada 24 Oktober 2011

Dear bayiku, kamu sudah besar, minggu depan sembilan bulan. Kamu banyak tingkah, banyak nangis, banyak merengek, tapi juga banyak tertawa, tersenyum, loncat-loncat, nyengir lebar, cubit-cubit, kamu juga pinter ngamuk.

Beberapa hari ini agak berat buat kami, orangtuamu. Ada masa-masa kamu sakit, lesu, memang, tapi kali ini lebih parah, ditambah jerit nangis, dan gendong seharian, semaleman. Kami sibuk menebak asal muasal rewelmu, apa tumbuh gigi? apa flu? apa keseleo? apa ini, apa itu. Tapi belum jelas juga sampai sekarang. Jadi, kami namakan, ini rewel misterius.

Maafkan kalau Buma-Buya emosi ya, Nak. Kadang, saat kami sudah terlalu lelah, kamu belum juga lelah menjerit. Oh, tidak, kami tidak pernah menyesal.

Teruntuk: Kamu-yang-paling-indah.

 

 

gendong selalu

tidurnya digendong juga

 

 

Ditulis dalam Opet | Bertanda: | 1 Komentar »

Buang di luar?

Posted by rere pada 27 September 2011

Merencanakan kehamilan itu penting buat saya. Sejak menikah, sudah saya tegaskan pada si lelaki untuk tidak gegabah, terburu-buru. Saya tidak mau hamil, dan si lelaki, wajib ber-KB.

Kenapa bukan saya yang ber-KB? Kenapa harus? hehe

Memanglah sudah jodoh, si lelaki dengan kesadaran penuh bersedia ber-KB. Sarung karet aka kondom jadi pilihan.  Saya merasa aman, si suami merasa tenteram.

Banyak pilihan KB lainnya, kenapa saya memilih berkondom? Toh ada juga pilihan, buang di luar, aka, senggama terputus. Mmm, saya tidak memilih itu karena cara itu mengharuskan pengendalian diri penuh dari kedua pihak. Kalau satu pihak lengah, pihak lainnya bisa tidak waspada.

Lagipula, buat saya, seks yang terputus-putus itu tidak mantap, siapa pula yang mau mengendalikan diri di saat-saat begitu. Lagi enak-enaknya kok malah kabur. Saya tidak mau ambil resiko, kalau-kalau saya lengah, si lelaki lupa, dan terjadilah.. aaaaaaa… tidakkkk.. Saya tidak bisa menjamin saya akan waspada selamanya, dan si lelaki sadar seterusnya.

Maka, sudahlah, bersarung saja.

Lalu, lalu, saya pernah membaca, senggama terputus tidak menjamin pembuahan gagal terjadi. Memang sih, tidak ada cara pengendalian kehamilan yang menjamin seratus persen bebas gagal. Tapi, senggama terputus ini, kemungkinan kebobolannya gede ih. Takuttt…

Oh iya, tentang senggama terputus ini, sudah beberapa orang di sekitar saya jadi “korban”. Anak belum lagi 2 tahun, eh hamil. Maka, makin takutlah saya. Oleh karena itu, dalam hati saya yang paling dalam, saya memberikan tepuk tangan paling meriah untuk mereka yang berhasil membuat “buang di luar” sukses. Bayangkan, betapa hebatnya mereka.

Eh tapi, setelah melahirkan, saya sempat goyah berkondom. Gabungan malas, dan kasihan pada si suami membuat saya berpikir untuk ber-KB IUD (spiral). KB ini bisa bertahan lama loh, ada yang sampai 10 tahun. Tak perlu dibuka-buka. Enak kan ya, sekali pakai, tenang hati sedekade.

Kira-kira begini percakapan kami beberapa bulan lalu.

“Bang, yuk anterin ke dokter, mau pasang spiral” / ”Hah, kayakmana itu, Dek? /”Itu dimasukkan ring ke nonot, tahan sampe 10 tahun katanya” / “Hah, dimasukkan? Gak usahlah Dek, abang kondoman aja”.

Ternyata saudara-saudara, dia yang gak tega liat saya diperkosa IUD. hehe.. Ya sudahlah, mari kita beli kondom lagi. :D

Banyak sekali pilihan ber-KB, artikel di bawah ini saya kopi dari sini yaa..

Seperti kata iklan “Jangan hamil cepat-cepat, jangan lahir rapat-rapat, agar bayi lahir sehat, dan ibuuu selamat”.  :D

1. Sistem Intra Uterus (IUS)
IUS mempunyai banyak kelebihan dibanding tembaga IUD, lebih efektif dalam mencegah kehamilan, dan siklus menjadi lebih ringan, cepat dan tidak terlalu menyakitkan.  IUS mencegah kehamilan dengan bekerja terutama hanya pada jalur endometrial, mengingat hormon dilepaskan dari sistem tersebut. Tambahan mekanisme dari kegiatan tersebut, adalah tebalnya lendir serviks yang mengurangi timbulnya infeksi pelviks.

2. Intra Uterine Device (IUD)
IUD adalah alat plastik yang kecil yang terbungkus dengan kabel tembaga. Ginekolog dapat memasukan alat ini ke dalam uterus dengan prosedur yang mudah. IUD menghambat kehamilan dengan mencegah bertemunya sperma dan sel telur dengan cara menghentikan jalan sperma ke tuba falopi atau dengan mengganti jalur uterus, sehingga telur yang matang tidak dapat dibuahi. Sesuai tipenya, IUD dapat digunakan secara efektif dalam jangka waktu 5-10 tahun tanpa harus diganti. Sejumlah perempuan mungkin mengalami efek samping penggunaan IUD pada bulan pertama.  Yang umum terjadi adalah pendarahan yang tidak teratur dan kram di bagian bawah perut.

3. Kondom
Kondom untuk laki-laki terbuat dari sheath latex atau polyurethane yang dipakai di daerah penis sebelum penetrasi.  Setelah ejakulasi, sperma akan tetap berada di dalam kondom, sehingga tidak menyentuh vagina. Efektivitasnya tergantung bagaimana metode ini digunakan dan seseorang harus menggunakannya setiap melakukan aktivitas seksual.  Beberapa kondom sudah prelubricated, untuk mengurangi luka diantara dinding vagina.  Jika diperlukan, cairan untuk melicinkan jalannya kondom dapat digunakan. Kondom merupakan metode yang efektif untuk mengurangi risiko penyakit seksual, termasuk infeksi HIV. Sangatlah penting untuk menggunakannya pada enam bulan pertama hingga satu tahun dalam suatu hubungan, khususnya hubungan yang tidak serius atau jika salah satu pasangannya menderita penyakit seksual.

4. Metode Kalender
Kesadaran akan waktu subur, untuk tidak berhubungan seksual sehingga tidak terjadi kehamilan.  Metode untuk mengetahui kapan seorang wanita mengalami masa subur, biasanya berdasarkan atas siklus haid, perubahan suhu tubuh, dan perubahan lendir leher rahim. Keefektifannya bergantung dari pembuahan regular, pemahaman pada metode itu sendiri dan disiplin dalam menjalaninya.  Karena sering terjadi kesalahan dalam mengetahui waktu subur, metode ini dikategorikan kurang efektif dalam pencegahan kehamilan.

5. Coitus Interruptus (senggama terputus)
Coitus Interruptus berarti mengeluarkan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi, sehingga sperma tidak dapat menyentuh vagina. Metode ini sangat riskan dalam mencegah kehamilan, karena beberapa laki-laki dapat menahan ejakulasi, sedangkan beberapa lainnya tidak dapat mengontrol timbulnya ejakulasi. Tidak ada perlindungan terhadap tertularnya penyakit seksual, termasuk HIV.

6. Spermisida
Spermisida merupakan cairan kimia yang digunakan pada uterus untuk mencegah bertemunya sperma dengan sel telur di tuba falopi. Tersedia dalam vaginalette, kontrasepsi vaginal film jelly dan foam.Spermisida menjadi efektif jika digunakan pada vagina, sebelum berhubungan seksual.  Efeknya hanya bertahan beberapa waktu saja, setelah itu penggunaannya harus diulangi. Sangatlah penting untuk membaca cara pemakaiannya sebelum menggunakan. Pada saat penggunaannya, dapat timbul rasa perih dan sakit pada vagina yang akan memungkinkan risiko penularan penyakit kelamin, termasuk infeksi HIV.  Mengingat kontrasepsi ini sangat rendah efeknya dalam pencegahan kehamilan, maka alat ini tidak direkomendasikan untuk pasangan muda.

7. Suntik KB (satu hingga tiga bulan)
Suntik KB untuk satu bulan berisi estrogen alami yang dikombinasikan dengan progestin.  Cara kerjanya sama dengan pil, dapat diterima dan membuat siklus lebih stabil. Suntik KB untuk tiga bulan hanya berisi progestin dan cara kerjanya seperti minipil. Keduanya disuntik ke dalam otot gluteal/bokong.

8. Diafragma
Diafragma adalah suatu alat plastik berbentuk lingkaran yang ditempatkan sebelum pintu masuk rahim sebelum hubungan seksual dan harus disana selama delapan jam. Dokter merekomendasikan untuk menambahkan krim spermicidal dalam penggunaannya.  Diafragma tidak cocok untuk wanita penderita penyakit di rahim, peradangan dan konstriksi vagina.

9. Sterilisasi
Tuba falopi wanita ditutup atau diikat dengan electric dengan penggunaan obat bius.  Dapat juga dengan memotong jalan sperma.  Ini adalah jalan terakhir untuk pencegah kehamilan. Dokter biasanya menolak dalam penggunaan metode ini bagi ibu berusia di bawah 30 tahun atau perempuan yang belum memiliki anak yang berusia di bawah 35 tahun.  Produksi hormon alami tubuh dan fungsi sel telur akan berlangsung stabil dalam jangka panjang. Seorang perempuan merencanakan sterilisasi setelah melakukan pemikiran dan pemilihan kontrasepsi jangka panjang.

Kamu bisa juga baca serba-serbi KB di sini dan sana.

/salam senggama, kawan. :)

 

Ditulis dalam Tentang Saya, dan Dia, Uncategorized | 2 Komentar »

Perhitungan

Posted by rere pada 25 Agustus 2011

Seberapa banyak yang harus kita bagi dalam pernikahan? Apakah miliknya lantas menjadi milik saya, dan milik saya lantas menjadi milik dia. Apa semua mesti dibagi, rata?

Seberapa banyak, saya bisa mengaku milik saya, walaupun memang faktanya itu milik saya, dan benar saya yang mengusahakannya agar tercapai. Seberapa banyak pula dia harus berkorban, untuk istri, anak, rumah tangganya?

Sebenarnya siapa yang berkewajiban menjalankan mesinnya rumah tangga ini? Istri, suami, atau keduanya?

Sudah hampir 8tahun pacaran, 4 tahun diantaranya pacaran sambil menikah, tapi saya masih belum betul-betul mengerti pasal perhitungan suami-istri ini. Kewajiban saya apa, kewajiban dia apa. Siapa harus mengurusi apa, siapa harus membiayai yang mana.

Seberapa besar cinta saya untuk membiarkan dia mengambil semua hasil usaha saya, dan seberapa besar cintanya untuk membiarkan saya menguasai jerih payahnya. Pada akhirnya ini bukan soal cinta. Ini soal ego.

Note:
Saya mencintai dia, sangat.

Ditulis dalam Tentang Saya, dan Dia | Bertanda: | 3 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 651 pengikut lainnya.