Pada Mulanya Pantat
Posted by rere pada 22 Juni 2011
Apa yang pertama kali laki-lakimu katakan? Indahnya matamu, manisnya senyummu, merdunya suaramu, halusnya rambutmu, beningnya matamu, mulusnya kulitmu?
Laki-lakiku memuja pantat.
Pemujaan atas pantat mulai pada masa pantat masih terlihat bersahabat, sampai sekarang. Tak kurang dan tak lebih. Pantat jadi pemula percakapan, dan tempat akhir tangannya saat bertandang.
Laki-lakiku memuja pantat.
Pantat tak boleh dipandang orang, mukanya tiba mengerut saat celanapanjang ketat membungkus, lalu tiba tersenyum saat baju panjang menutup. Matanya seorang yang boleh melihat. “Ini propertiku,” kata dia, meremas pantat.
Laki-lakiku memuja pantat.
Cinta apa itu? muasalnya dua bongkahan daging melendung di bawah punggung? Terlalu sederhana. Bukan sebenarnya. Terlalu biasa. Akanlah lebih baik jika cinta dimulai dari bijaknya pikir, bersambungnya pendapat, samanya minat. Tapi dari pantat? Tak pantaslah dibayang hebat. “Enam bulan, setahun paling lama.”
Ada saatnya perkara pantat tak lagi menarik minat, terlupa sementara. “Bagaimana kalau kita menikah?” Saat itu, tangannya tak lagi mengusap pantat, tapi pindah ke daging serupa pantat di wajah. Berhari kemudian, tangannya perlahan menelusur turun, memeluk begitu ketat, kembali ke pantat.
“Aku rasa sudah saatnya berproduksi.” Tangannya pindah ke daging buncit di sebalik pantat, lalu tiba-tiba seperti balon sedang ditiup, perut membuntal, dan pecah. Lama, setelah itu, tangannya kembali lagi, ke pantat.
Kelak, saat pantat tak lagi ketat, laki-lakiku masih terus memujanya.
Dan, aku mengerti,
Tak ada yang salah, dengan cinta, yang bermula dari pantat.

/salam
(terinspirasi cerpen lelaki, perempuan, dan pantat – Rosi L Simamora)

Kulinereka berkata
Nyengir
dennimeilizon berkata
Hehehehe.. numpang baca, sobat