Saya Lop Yu
Posted by rere pada 10 Agustus 2011
Jutaan orang punya bayi, maka bayi mustinya bukan lagi hal aneh, harusnya punya bayi biasa saja, seperti layaknya orang yang punya bayi. Hanya punya, membesarkan, melihatnya pergi, dan kemudian kita mati (ini dalam pikiran saya, tapi maut siapa pula yang tahu).
Punya bayi bukan hal biasa buat saya. Sejak dulu saya tidak terpikir untuk menikah, lalu ternyata saya menikah cukup muda, 24 tahun. Sejak dulu saya tidak terpikir punya anak, lalu saya punya anak saat 27 tahun. Dalamnya laut bisa diukur, isi otak tak ada yang tahu.
Maka disinilah saya, menimang bayi. Baiknya saya jelaskan kepada Anda, menimang bayi dalam otak saya semacam masuk jaman purbakala. Sudah bukan jamannya. Teknologi sudah memungkinkan pindah ke planet lain, dan saya malah menyusui. Mustinya, proses reproduksi sudah bisa dilakukan mesin. Pancarkan sinar X, Y, Z, tambahkan energi, lahirlah bayi yang kemudian dibesarkan dalam tabung hingga dewasa. (Pikiran macam apa pula ini).
Saya, bahkan tidak menyangka, mampu mengulangi satu kata, puluhan ratusan kali sehari, sambil menunjuki benda-benda di sekeliling. “Nenen… ne nen, ne nen, ne nen,” kata saya sambil menyodorkan payudara. Lalu “Buma.. bu ma.. bu ma…,” menunjuk diri saya, terus berkali-kali, mulai bangun hingga tidur malam, diulang lagi, terus.
Dan saya tidak lelah mengulang kata, meski akhirnya si bayi lebih memilih berujar “nggakkk… dan mbakk” sebagai kata pertamanya. Saya tidak menyerah.
Aktivitas macam apa ini?
Saya tidak tahu persis.
Oh iya, kamu, saya lop yu.
/berharap suatu saat nanti kita bisa berbicara layaknya teman.

Ceritaeka berkata
The unique feeling of being a mother ya re?
rere berkata
Iya, Ka. hehe.. sampe sekarang masih jetlag.
Billy Koesoemadinata berkata
aih, punya anak seru ya? *mikir2*
rere berkata
hehhee… pikir lagi Om Billy.. :p
capcaibakar berkata
Hihi… *numpang ketawa aja*
rere berkata
ketawanya, ketawa ngerti apa ketawa ngejek? *ambil sapu