Apa Sih Maaf Itu?
Posted by rere pada 11 Agustus 2011
gambar pinjem sini
Apa sih maaf itu? Kenapa menjelang lebaran, semuanya, iya semua, berbondong-bondong minta maaf? Memangnya kalo minta maaf di hari lain tidak bisa?
Jawabannya tentu saja bisa.
Masalahnya, apa iya kita mau minta maaf di hari lain?
Belum tentu.
Buat saya, minta maaf kala menjelang lebaran itu semacam menyenangkan. Menyenangkan karena saya bisa memohon maaf pada sanak saudara dan kawan, menyenangkan juga, karena saat memohon maaf, saya sama sekali tidak kehilangan muka.
Minta maaf itu susah jenderal! Apalagi waktu kita nyata-nyata berbuat salah, ngotot pula mempertahankan kesalahan itu. Tiba waktu sadar? Gengsi lebih tinggi harganya ketimbang sadar diri.
Permohonan maaf menjelang lebaran seperti ini, seperti permohonan maaf yang diobral habis. Layaknya pameran hari terakhir, yang penting barang laku. Sangking banyaknya yang minta maaf, saya sampai lupa, sebenarnya pada siapa saya benar-benar “bersalah”, dan pada siapa saya berbasa-basi.
Saya yakin, yang menerima permohonan maaf saya, entah lewat sms/email/tag foto/pesan di YM!, bbm, pun sudah lupa, siapa-siapa saja yang memohon maaf, dan pada siapa pula meminta maaf. Dan, kepada anda yang akan meminta maaf, saya ingatkan, jangan sampai mengirim permintaan maaf lewat channel yang berbeda dua kali. Nanti, ketahuan kalau anda cuma basa-basi.
Makin kesini, saya semakin sadar, seharusnya kita tidak mengobral maaf berlebihan. Saya pikir tidak salah kalau ada seseorang yang berkirim seperti ini “Hai, mohon maaf lahir batin ya, selamat idul fitri” (duh template sekali ya-ini jelas basa-basi), lalu anda membalas. “Mohon maaf, permintaan maaf anda tidak diterima, saya masih kesal, silakan coba lagi tahun depan”.
Lalu yang menerima pesan, akan sadar, permintaan maaf basa-basinya detected, dia lekas menelepon anda, berujar salam, berbagi kata, kesalpun hilang, dan terjadilah dia, maaf-memaafkan.
Pada orang-orang terdekat, saya usahakan tidak menggunakan template saat meminta maaf, saya menggunakan kata-kata buatan sendiri (produksi dalam negeri) untuk menyampaikan maksud hati terdalam saya.
Contohnya seperti ini:
“Suamiku sayang, istrimu yang cantik dan baik hati ini mohon maaf ya kalau ada salah, kadang-kadang aku marah kalau kamu pulang kemaleman, aku kan kangen kamu, pingin ngobrol. Makanya, kalo pulang jangan lama dong, jadi akunya ga marah, kamu ngerti kan maksud aku”. Loh kok!
Bukan, bukan begitu, begini dia..
“Suamiku, aku minta maaf ya, kalau suka marah, suka kesal, makanya kalo kasi uang belanja yang banyak dong, jadi kalo aku bosen, bisa pergi shopping, jadinya kan ga BT, kalo BT itu jadinya marah sama kamu,” Hehe..
Iya, saya bukan istri yang sempurna memang. Permintaan maaf saya pada suami, masih saja ditambah curcol semangkok.
Ahh, apapun, bagaimanapun cara anda meminta maaf, pastikan permintaan maaf tulus keluar dari hati anda. Satu lagi, tak perlu lah meminta maaf pada orang yang tidak anda kenal dekat, nanti kesannya malah eskaesde.
Ahh, suami, terimakasih sudah bersedia hidup denganku selama ini ya, aku padamu.
Suami, maapkan istrimu yang bandel ini, yang susah dikasitau. Percayalah, suatu saat nanti, bandelku ini yang akan membuatmu rindu. (kepedean).
Selamat ramadhan suami, mari kita nikmati menu sahur dan berbuka yang nikmat ala chef rere ini. Jangan lupa baca doa, kalau-kalau masakannya kurang matang.
Selamat idulfitri suami, THRnya jangan lupa.
/istri bersatu tak bisa dikalahkan.


ichanx berkata
tadinya gw mo minta maaf.. tapi entar dituduh eskaesde… ya udah… gak jadi.. *melengos*
)