Cinta, Cerita, dan Rupa

sekaranglah saatnya, karena kemarin bukan lagi milik kita dan esok belum tentu kita temui

Perhitungan

Posted by rere pada 25 Agustus 2011

Seberapa banyak yang harus kita bagi dalam pernikahan? Apakah miliknya lantas menjadi milik saya, dan milik saya lantas menjadi milik dia. Apa semua mesti dibagi, rata?

Seberapa banyak, saya bisa mengaku milik saya, walaupun memang faktanya itu milik saya, dan benar saya yang mengusahakannya agar tercapai. Seberapa banyak pula dia harus berkorban, untuk istri, anak, rumah tangganya?

Sebenarnya siapa yang berkewajiban menjalankan mesinnya rumah tangga ini? Istri, suami, atau keduanya?

Sudah hampir 8tahun pacaran, 4 tahun diantaranya pacaran sambil menikah, tapi saya masih belum betul-betul mengerti pasal perhitungan suami-istri ini. Kewajiban saya apa, kewajiban dia apa. Siapa harus mengurusi apa, siapa harus membiayai yang mana.

Seberapa besar cinta saya untuk membiarkan dia mengambil semua hasil usaha saya, dan seberapa besar cintanya untuk membiarkan saya menguasai jerih payahnya. Pada akhirnya ini bukan soal cinta. Ini soal ego.

Note:
Saya mencintai dia, sangat.

3 Tanggapan to “Perhitungan”

  1. Ceritaeka berkata

    Hmmm topik keuangan ini sensitif.
    Dulu sebelum menikah di gereja gue wajib ikutan kelas bina pra-nikah dan salah satu topik di pertemuan tersebut adalah soal pengaturan keuangan. Intinya adalah soal kesepakatannya Re.. dinegosiasikan dengan baik dan ditaati dengan komitmen.

    Gue dan suami ketika memutuskan menikah maka kami bersepakat untuk mengintegrasikan keuangan, jadi milik dia ya milik gue demikian sebaliknya. Jadi duit itu dilebur, kalo ada pos pengeluaran, gak ada yang bilang lu yang bayar atau gue yg bayar.. Lha duitnya udh dilebur, jadinya adalah kita yang bayar bersama2 :) demikian juga dengan hak milik sesuatu, belinya bareng2 jadi ya milik bareng2. Selalu konsul kalau mau beli atau bayar sesuatu, kan pemilik dari uangnya adalah berdua gak sendiri2 lagi…

    Tapi setiap rumah tangga tentu punya model keuangan sendiri2 ya Re… Just sharing what me and my husband do :)

  2. indahjuli berkata

    Hihihi, benar banget kata Eka, masalah keuangan tuh sensitif dalam keluarga, apalagi kalau dua-duanya bekerja dan dua-duanya punya kewajiban memberikan uang saku pada orangtua.
    Kalau saya sih intinya, jujur. Jujur terhadap penerimaan dan pengeluaran uang. Jujur juga seberapa banyak yang kita atau pasangan kita berikan kepada orangtua, sanak saudara.

    Nggak masalah punya rekening sendiri-sendiri, yang penting urusan keluarga kecil kita sudah terpenuhi dan kita perempuan yang mengaturnya merasa senang.

  3. jensen99 berkata

    Seberapa banyak yang bisa dibagi? Properti dan harta benda yang dimiliki sesudah pernikahan semestinya menjadi milik bersama ya, jadi siapa saja boleh pake, toh buat kebahagiaan bersama. Akan halnya hal2 yang tidak ingin dipakai oleh pasangan, harusnya bukan hal yang sulit tuk dibicarakan. Begitu juga dengan properti yang dibawa oleh individu sebelum menikah. Jadi bukannya “milik saya jadi milik dia”, tapi ada rasa memiliki & ikut bertanggungjawab yang sama besarnya, tentu dengan memprioritaskan siapa yang paling punya saham.

    Mesin rumah tangga mestinya tanggungjawab suami. Tapi kalau istri juga kerja tentu mesinnya jadi lebih kuat. Sebaiknya buat dulu anggaran rumah tangga yang diisi berdua. Masing2 mau taruh berapa persen dari gaji silahkan disepakati. Seluruhnya juga bisa. Biasanya sih ini istri yang pegang. Nanti kebutuhan2 bersama diambil dari anggaran itu, jadi gak bagi2 siapa mbayar apa. Jadi sebaiknya yang diprioritaskan adalah “uang kita”, bukan “uangku” dan “uangmu”.

    Saya tidak meragukan soal cinta, tapi kalau sampai timbul masalah keuangan, berarti ada yang salah. Antara kebutuhan lebih besar dari pemasukan; pengeluaran satu pihak lebih banyak dari pihak lain; atau ada kebutuhan pribadi yang lebih jadi prioritas ketimbang kebutuhan keluarga. Jadi perinci dulu masalahnya, baru cari jalan keluar satu2. Kalo cinta kalian sekuat itu mestinya bisa deh. Gudlak.. ;)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 678 pengikut lainnya.