Buang di luar?
Posted by rere pada 27 September 2011
Merencanakan kehamilan itu penting buat saya. Sejak menikah, sudah saya tegaskan pada si lelaki untuk tidak gegabah, terburu-buru. Saya tidak mau hamil, dan si lelaki, wajib ber-KB.
Kenapa bukan saya yang ber-KB? Kenapa harus? hehe
Memanglah sudah jodoh, si lelaki dengan kesadaran penuh bersedia ber-KB. Sarung karet aka kondom jadi pilihan. Saya merasa aman, si suami merasa tenteram.
Banyak pilihan KB lainnya, kenapa saya memilih berkondom? Toh ada juga pilihan, buang di luar, aka, senggama terputus. Mmm, saya tidak memilih itu karena cara itu mengharuskan pengendalian diri penuh dari kedua pihak. Kalau satu pihak lengah, pihak lainnya bisa tidak waspada.
Lagipula, buat saya, seks yang terputus-putus itu tidak mantap, siapa pula yang mau mengendalikan diri di saat-saat begitu. Lagi enak-enaknya kok malah kabur. Saya tidak mau ambil resiko, kalau-kalau saya lengah, si lelaki lupa, dan terjadilah.. aaaaaaa… tidakkkk.. Saya tidak bisa menjamin saya akan waspada selamanya, dan si lelaki sadar seterusnya.
Maka, sudahlah, bersarung saja.
Lalu, lalu, saya pernah membaca, senggama terputus tidak menjamin pembuahan gagal terjadi. Memang sih, tidak ada cara pengendalian kehamilan yang menjamin seratus persen bebas gagal. Tapi, senggama terputus ini, kemungkinan kebobolannya gede ih. Takuttt…
Oh iya, tentang senggama terputus ini, sudah beberapa orang di sekitar saya jadi “korban”. Anak belum lagi 2 tahun, eh hamil. Maka, makin takutlah saya. Oleh karena itu, dalam hati saya yang paling dalam, saya memberikan tepuk tangan paling meriah untuk mereka yang berhasil membuat “buang di luar” sukses. Bayangkan, betapa hebatnya mereka.
Eh tapi, setelah melahirkan, saya sempat goyah berkondom. Gabungan malas, dan kasihan pada si suami membuat saya berpikir untuk ber-KB IUD (spiral). KB ini bisa bertahan lama loh, ada yang sampai 10 tahun. Tak perlu dibuka-buka. Enak kan ya, sekali pakai, tenang hati sedekade.
Kira-kira begini percakapan kami beberapa bulan lalu.
“Bang, yuk anterin ke dokter, mau pasang spiral” / ”Hah, kayakmana itu, Dek? /”Itu dimasukkan ring ke nonot, tahan sampe 10 tahun katanya” / “Hah, dimasukkan? Gak usahlah Dek, abang kondoman aja”.
Ternyata saudara-saudara, dia yang gak tega liat saya diperkosa IUD. hehe.. Ya sudahlah, mari kita beli kondom lagi.
Banyak sekali pilihan ber-KB, artikel di bawah ini saya kopi dari sini yaa..
Seperti kata iklan “Jangan hamil cepat-cepat, jangan lahir rapat-rapat, agar bayi lahir sehat, dan ibuuu selamat”. :D
1. Sistem Intra Uterus (IUS)
IUS mempunyai banyak kelebihan dibanding tembaga IUD, lebih efektif dalam mencegah kehamilan, dan siklus menjadi lebih ringan, cepat dan tidak terlalu menyakitkan. IUS mencegah kehamilan dengan bekerja terutama hanya pada jalur endometrial, mengingat hormon dilepaskan dari sistem tersebut. Tambahan mekanisme dari kegiatan tersebut, adalah tebalnya lendir serviks yang mengurangi timbulnya infeksi pelviks.
2. Intra Uterine Device (IUD)
IUD adalah alat plastik yang kecil yang terbungkus dengan kabel tembaga. Ginekolog dapat memasukan alat ini ke dalam uterus dengan prosedur yang mudah. IUD menghambat kehamilan dengan mencegah bertemunya sperma dan sel telur dengan cara menghentikan jalan sperma ke tuba falopi atau dengan mengganti jalur uterus, sehingga telur yang matang tidak dapat dibuahi. Sesuai tipenya, IUD dapat digunakan secara efektif dalam jangka waktu 5-10 tahun tanpa harus diganti. Sejumlah perempuan mungkin mengalami efek samping penggunaan IUD pada bulan pertama. Yang umum terjadi adalah pendarahan yang tidak teratur dan kram di bagian bawah perut.
3. Kondom
Kondom untuk laki-laki terbuat dari sheath latex atau polyurethane yang dipakai di daerah penis sebelum penetrasi. Setelah ejakulasi, sperma akan tetap berada di dalam kondom, sehingga tidak menyentuh vagina. Efektivitasnya tergantung bagaimana metode ini digunakan dan seseorang harus menggunakannya setiap melakukan aktivitas seksual. Beberapa kondom sudah prelubricated, untuk mengurangi luka diantara dinding vagina. Jika diperlukan, cairan untuk melicinkan jalannya kondom dapat digunakan. Kondom merupakan metode yang efektif untuk mengurangi risiko penyakit seksual, termasuk infeksi HIV. Sangatlah penting untuk menggunakannya pada enam bulan pertama hingga satu tahun dalam suatu hubungan, khususnya hubungan yang tidak serius atau jika salah satu pasangannya menderita penyakit seksual.
4. Metode Kalender
Kesadaran akan waktu subur, untuk tidak berhubungan seksual sehingga tidak terjadi kehamilan. Metode untuk mengetahui kapan seorang wanita mengalami masa subur, biasanya berdasarkan atas siklus haid, perubahan suhu tubuh, dan perubahan lendir leher rahim. Keefektifannya bergantung dari pembuahan regular, pemahaman pada metode itu sendiri dan disiplin dalam menjalaninya. Karena sering terjadi kesalahan dalam mengetahui waktu subur, metode ini dikategorikan kurang efektif dalam pencegahan kehamilan.
5. Coitus Interruptus (senggama terputus)
Coitus Interruptus berarti mengeluarkan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi, sehingga sperma tidak dapat menyentuh vagina. Metode ini sangat riskan dalam mencegah kehamilan, karena beberapa laki-laki dapat menahan ejakulasi, sedangkan beberapa lainnya tidak dapat mengontrol timbulnya ejakulasi. Tidak ada perlindungan terhadap tertularnya penyakit seksual, termasuk HIV.
6. Spermisida
Spermisida merupakan cairan kimia yang digunakan pada uterus untuk mencegah bertemunya sperma dengan sel telur di tuba falopi. Tersedia dalam vaginalette, kontrasepsi vaginal film jelly dan foam.Spermisida menjadi efektif jika digunakan pada vagina, sebelum berhubungan seksual. Efeknya hanya bertahan beberapa waktu saja, setelah itu penggunaannya harus diulangi. Sangatlah penting untuk membaca cara pemakaiannya sebelum menggunakan. Pada saat penggunaannya, dapat timbul rasa perih dan sakit pada vagina yang akan memungkinkan risiko penularan penyakit kelamin, termasuk infeksi HIV. Mengingat kontrasepsi ini sangat rendah efeknya dalam pencegahan kehamilan, maka alat ini tidak direkomendasikan untuk pasangan muda.
7. Suntik KB (satu hingga tiga bulan)
Suntik KB untuk satu bulan berisi estrogen alami yang dikombinasikan dengan progestin. Cara kerjanya sama dengan pil, dapat diterima dan membuat siklus lebih stabil. Suntik KB untuk tiga bulan hanya berisi progestin dan cara kerjanya seperti minipil. Keduanya disuntik ke dalam otot gluteal/bokong.
8. Diafragma
Diafragma adalah suatu alat plastik berbentuk lingkaran yang ditempatkan sebelum pintu masuk rahim sebelum hubungan seksual dan harus disana selama delapan jam. Dokter merekomendasikan untuk menambahkan krim spermicidal dalam penggunaannya. Diafragma tidak cocok untuk wanita penderita penyakit di rahim, peradangan dan konstriksi vagina.
9. Sterilisasi
Tuba falopi wanita ditutup atau diikat dengan electric dengan penggunaan obat bius. Dapat juga dengan memotong jalan sperma. Ini adalah jalan terakhir untuk pencegah kehamilan. Dokter biasanya menolak dalam penggunaan metode ini bagi ibu berusia di bawah 30 tahun atau perempuan yang belum memiliki anak yang berusia di bawah 35 tahun. Produksi hormon alami tubuh dan fungsi sel telur akan berlangsung stabil dalam jangka panjang. Seorang perempuan merencanakan sterilisasi setelah melakukan pemikiran dan pemilihan kontrasepsi jangka panjang.
Kamu bisa juga baca serba-serbi KB di sini dan sana.
/salam senggama, kawan.


capcaibakar berkata
hahahaa.. ya ampun.. aku bacanya tersipu-sipu. Ndak suka sarungan mbak.. ga skin to skin.. kurang berasa. Sugesti kali ya.. :p
Nf berkata
Loh, mana itu mana itu vasektomi?