Tentang Foto Anak, disini dan disana
Posted by rere pada 29 Desember 2011
bahkan, teman yang paling garangpun, memasang foto anaknya pada profile picture!
Apa sih yang sebenarnya terjadi pada saya dan (beberapa) teman-teman saya yang beranak (istrinya beranak)? Kok ya, jadi mellow-mellow njiji-i gitu? Pasang foto anak di satu/beberapa/setiap akun sosial, update/unggah terbaru perkembangan anak, tengkurap, telentang, baju baru, tidur, ngences, merangkak, belajar jalan, nangis, dan yang paling sering, foto anak tertawa.
Siapa memangnya yang perlu tahu? Siapa pula yang ingin tahu?
Memasang foto anak, ibarat candu. Tak cukup sekali, setelah ini, lalu itu, setelah itu, lalu yang lain lagi, adaaa saja yang perlu dikabarkan kepada oranglain. Berkabarnya tak langsung memang, tapi ya intinya sama.
Seorang teman yang belum beranak bertanya kepada saya, apa yang melandasi perbuatan itu? “kamu salah satu tersangkanya,” demikian ia berujar. dan saya harus menjawab sejujur mungkin, karena memang teman saya ini sama sekali tidak bisa dibohongi, radarnya kuat.
Saya tidak punya jawabannya, saya tidak tahu apa yang saya pikirkan saat foto-foto itu terunggah dengan sombongnya di akun saya.
Lalu, saya jawab, “saya senang, dan saya pikir orang juga akan senang saat melihatnya.” Masalahnya, saya tahu persis saya tidak berpikir demikian. Melihat anak orang lain, itu senang awal-awalnya saja, saat baru lahir, misalnya. Setelah itu, foto si anak ngences atau nyengir lebar, tak lagi membuat senang, apalagi itu foto teman yang tidak “begitu” dekat. Cukup tahu saja, “ooo, sudah melahirkan/oooo, sudah punya anak.” Selesai.
Apa alasannya untuk “nyombong”? Memangnya anak bisa jadi bahan sombong ya? Lah, masi pipis dan beol sembarangan gitu kok disombongin. Macam tidak punya prestasi lainnya dalam hidup, selain bikin anak (memang iya sih).
Ada lagi seorang teman yang bilang begini “eh, anakku ada di majalah ini, halaman segini loh.” Lah, terus maksudnya apa? Suruh beli majalahnya, terus kasi komentar “ehh, anakmu cakep yaa, dikasi makan apa?” gitu? Kalau kasus seperti dia ini, apa ya maksudnya? Ada lagi, yang rajin bikin blogpost tiap si anak “pinter” sedikit (iya itu saya :p ).
Oh iya, teman yang itu (iya, dia masih orang yang sama), juga bilang jangan menamakan album foto anak dengan judul semacam “my angel”, “hidupku”, “pahlawanku”. Saya sih mengerti ya, gimana bisa anak yang nangis sembarangan, lempar-lempar barang, dipanggil malaikat/pahlawan. Terlalu mimpi.
Jadi, masih belum tertebak juga alasannya ya? Sepertinya saya butuh bantuan teman-teman lainnya untuk menjawab.
Kemarin, saya bilang begini pada dia, “nanti kalau kamu sudah melahirkan, dan (kalau) melakukan hal yang sama, tolong beritahu saya alasannya ya,“
karena saya sungguh mati penasaran!
/salam emak-emak


ceritaeka berkata
Hmm gue belum punya anak, Re jd gak tau kenapa alasannya.
) tp tetep kuping gue rasanya gimana gitu dgn kata beranak haha
Btw entah kenapa gue semacam risi dengan pemakaian kata beranak (pdhl secara tata bahasa bener ya, punya rambut: berambut, punya suami: bersuami, punya anak: ya beranak
*halah jd OOT*
iyank berkata
Ini yang aku twit-kan juga kemarin. Masih pagi, tapi dah banyaaak banget yang upload foto bayi di facebook. Lama-lama bosen juga ngeliatnya
icit berkata
eeehh.. aku aja baru punya ponakan udah rajin banget upload fotonya..
)
*merenung* apalagi kalo ntar punya anak ya..
jadi gak bisa jawab juga deh..
mikow berkata
ga masalah sih kalo pasang poto anak selama namanya ga diganti jadi “mamanya …., bundanya ….. , dll” nah kalo namanya diganti bgitu suka bikin bingung, siapa tuh?