Duh, hati saya susah. Sejak kemarin tak hilang juga.
Apa masalahnya tuh? Ahh.. Saya pingin belanjaaa, ada baju yang cantik sekali. Loh, sepertinya kamu di rumah saja, kapan kamu lihat bajunya? Tetangga yang bawa ke rumah?
Ooohh, tentu saja bukan.
Jadi?
Itu tuh, toko online, *sambil meremas jari kencang-kencang.
Kemudahan menyertai kehidupan saya, dan anda saat ini. Benar begitu, bukan? Apa sih yang tidak bisa dibeli online? Sampai saat ini, saya sudah membeli baju, sepatu, asesoris, buku, mainan anak, perlengkapan bayi, beha, celana dalam, sampai air conditioner.
Mudah sekali,
Sangat mudah, sampai saya stress sendiri.
Terlalu mudah, uang mengalir sampai jauhhh…
Kembali soal baju tadi, susah hati saya mengingat baju sepotong itu. Kalau sudah kepingin membeli macam ini, saya bisa menciptakan sekian alasan.
Misalnya, ahh atasan saya kan cuma 3 potong, wajar dong saya beli sepotong lagi. Setelah punya anak saya kebanyakan membeli pakaian anak, sekali-kali saya mau membeli untuk diri sendiri. Saya berhak beli baju, toh yang saya belanjakan adalah uang saya, bukan uang suami, apalagi uang orangtua.
Saya tidak memerlukan baju itu, tapi baju itu cantik sekali.. Ahh, Tuhan… Kalau sudah begini, saya bersimpuh kepadamu, mohon ampun atas nafsu yang menggebu, dan tentu saja saya kalah, Tuhan. Mengapa saya begitu lemah.
Ada sekian potong dress yang bahkan belum pernah saya pakai. Menumpuk berantakan di lemari. Tidak ada yang salah dengan dress-dress itu, saya membelinya secara sadar. Hanya saja, saya tidak begitu sering keluar rumah, tidak begitu sering pergi kondangan, tidak begitu sering jalan-jalan.
Jadi, mau dipakai kemana mereka?
Kadang, logika menyeruak dari sela lubang-lubang di kepala. Kadang, tertutup semen beton!
Seperti biasanya, saya tahu, saya akan kalah, lagi.
gpp beli aja asal ga mahal2 banget sih, tanpa kita sadari itu bikin hepi loh re
it happens to me a lot.
hehehe, hepi membawa miskin :p